Karimun Jawa

Karimun Jawa, Karimun Jawa pulau indah pulau wisata yang sudah menjadi ikon pulau wisata yang berada dalam wilayah kabupaten jepara jawa tengah ini memang memiliki sejuta misteri, salah satunya adalah cerita asal usul awal bakal bibit kawit masyarakat penghuni (pribumi) pulau karimun jawa. Ada beberapa versi history cerita asal muasal pendudukan karimunjawa. Salah satunya adalah yang sudah tersebar luas bahkan sudah tertuliskan di website terpercaya yaitu wikipedia. Namun begitu ternyata masih ada versi lain yang jarang diketahui. Mari kita coba renungi dan dalami dengan bijaksana.

Awal Sejarah Karimun jawa Modern

Carel Rudolph von Michalofski (1792-1854)

Disarikan oleh Daniel Frits Maurits Tangkilisan dari buku Het Hoge Huis aan de Javazee : de geschiedenis van een zeeroverseiland (Rumah tinggi di laut jawa : Sejarah sebuah pulau bajak laut), karya Joop van den Berg, terbitan BZZToH, ‘s-Gravenhage, 1991, ISBN 90 6291 710 0.

Carel Rudolph von Michalofski adalah seorang bangsawan Prusia (kini Jerman) berdarah polandia yang dikirim oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai assistent-resident atau posthouder di Crimon Jawa selama 20 tahun (1818-1838). Tugas pertamanya adalah mengenyahkan bajak laut. Setelah itu bersama 1100 orang hukuman yang dibuang dari Pulau Jawa, ia membangun sebuah “negeri: di Crimon Jawa. Bajak laut adalah pekerjaan biasa dimasa VOC dan setelahnya. Memang sebelum orang Eropa mengarungi laut Nusantara, bajak laut sudah ada. Namun sejak kedatangan orang Eropa, jumlahnya meningkat. Hal ini disebabkan kekerasan dan penekanan yang dilakukan oleh Portugis, Spanyol dan Belanda. Kontrak kontrak dagang yang diikat VOC dengan raja-raja Nusantara juga menjadi penyebabnya karena menimbulkan kemiskinan gara-gara kewajiban-kewajiban yang dibebankan VOC dan pemerintah Hindia-Belanda sendiri kepada rakyat. Berabad abad bajak laut bagaikan kutukan, bukan cuma bagi kapal-kapal pemerintah, kapal-kapal dagang Eropa dan kapal-kapal penangkap paus Amerika, tapi juga penduduk Nusantara. Perdagangan, kriya dan bahkan pertanian menjadi hampir mustahil karena lalu-lintas laut hampir dihambat. Desa-desa habis dijarah bajak laut sementara raja-raja pribumi sibuk saling berperang guna menjual para tawanan mereka sebagai budak. Pada 1810 kondisi ini tidak bisa dikendalikan lagi. Sepertinya tidak ada lagi kapal yang bisa melayari laut Nusantara dengan aman. Peraturan-peraturan pemerintah pun tidak mampu lagi berbuat banyak. Saat pendudukan Inggris di Nusantara (1811-1815), Pemerintah saat itu yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles mengambil tindakan untuk menghabiskan bajak laut. Saat itu Crimon Jawa telah lama terkenal sebagai sarang bajak laut. Namun pada tahun 1812, angkatan laut dengan 4 kapal fregat (pergata) menghancurkan dan menghalau semua armada bajak laut disana. Lalu disana ditempatkan seorang pejabat yang mewakili pemerintah pusat Batavia guna mencegah bajak laut kembali. Ia diperlengkapi dengan beberapa lusin prajurit, sekitar 30 senapan, beberapa meriam kecil dan tiga kruisprauw. Sekitar 1000 orang tawanan yang dibuang dari Jawa juga dikirim untuk memopulasi kepulauan ini. Bersama orang-orang tahanan yang dipekerjakan paksa itu, sang posthouder harus mendirikan sebuah pos atau pemukiman dibatas hutan belantara yang hampir tak tertembus disisi-sisi gunung Paserehan dan ditanjung berrawa-rawa diujung selatan pulau Crimon Jawa. Sebuah proyek yang mengundang bencana. Dihutan belantara disisi gunung Paserehan yang ia coba babat penuh berkeriapan ular-ular berbisa. Sementara dalam rawa-rawa yang menutupi tanjung dipenuhi nyamuk malaria. Dalam waktu yang sangat singkat ratusan pekerja paksa tewas digigit ular atau terkena demam malaria sehingga tidak mampu lagi bekerja. Residen Japara tetap mengirimkan orang-orang buangan, tapi hal ini tetap tidak cukup untuk menyelesaikan proyek babat alas tersebut. Pada 1818, saat pemerintahan kembali ketangan Belanda, seorang pejabat baru ditempatkan yakni seorang pemuda Prusia, masih segar baru tiba dari Eropa dan tidak memiliki sedikitpun pengalaman dinegeri tropis. Beliaulah yang mengubah haluan pembangunan Crimon Jawa secara radikal. Setibanya di Crimon Jawa, hal pertama yang Carel Rudolph von Michalofski lakukan adalah menghentikan penebangan hutan belantara dan memulai pengeringan rawa-rawa. Dengan bongkahan-bongkahan karang besar yang muncul saat air surut, ia menimbun tanah becek itu. Tanpa menyadari bahwa malaria itu berasal dari nyamuk (saat itu belum diketahui), ia telah membebaskan daerah itu dari malaria. Dengan begitu kampung utama Crimon Jawa bisa dibangun. Siapa sebenarnya Carel Rudolph von Michalofski ini, yang memimpin orang-orang buangan membangun Crimon Jawa? Carel Rudolph von Michalofski kelahiran Berlin, Jerman pada tanggal 8 februari 1792. Ayahnya berdarah polandia yang mungkin lahir pada sekitar tahun 1760 dan ibunya bernama Elisabeth von Flottow. Carel Rudolph von Michalofski tiba dibatavia pada tanggal 14 juli 1817 dari Belanda dengan kapal Kalypso. Walau memiliki pengalaman militer dalam angkatan perang Rusia, ia tiba dibatavia sebagai pengangguran. Alasannya meninggalkan karier kemiliteran tidak diketahui. Data tentang riwayat hidupnya semasa berada dikawasan Eropa pun luar biasa minim. Namun tentang kariernya dihindia-belanda dapat kita ketahui dari empat artikel yang pada tahun 1915 dipublikasikan oleh G.L. Gonggrijp, mantan Residen rembang saat itu (sebelumnya Residen Japara). Gonggrijp menemukan sekitar 30 surat yang ditulis oleh Carel Rudolph von Michalofski kepada atasan langsungnya, Residen Japara. Pada tahun 1818 Carel Rudolph von Michalofski telah berdiam dijapara. Saat itu ia sudah bekerja dikantor residen. Pada tanggal 15 mei 1818 ia ditunjuk atasannya Mr. J.A. Doornik residen Japara sebagai asisten-residen di Crimon Jawa. Ternyata Mr. Doornik bukan cuma atasannya, karena pada tahun 1822 Carel Rudolph menikahi Joanna Theodora van Lieveling, anak seorang budak Timor bernama Marcina, yang diasuh sebagai anak sendiri oleh sang residen. Joanna Theodora berusia 21 tahun saat ia menikah dengan Carel Rudolph. Masa kecilnya pernah ia jalani dibatavia. Pada usia 4 tahun ia dibaptis disebuah gereja Portugis yang mungkin sekarang menjadi GPIB Tugu dikawasan Tanjung Priok, Jakarta utara. Joanna Theodora mendampingi Carel Rudolph selama masa dinasnya di Crimon Jawa dan memberinya 5 orang anak. Jika melihat pendekatan Von Mischalofski yang tidak berdasarkan buku panduan dan tata cara barat terhadap orang-orang buangan yang ia pimpin, tapi pendekatan yang berdasarkan pengenalan budaya lokal, mungkin Joanna Theodora juga berperan bukan cuma sebagai ibu rumah tangga, tapi juga berperan penting dalam memberi masukan dan nasehat kepada suaminya perihal pola pikir dan budaya Nusantara. Von michalofski bukan seorang pegawai pemerintah biasa. Ia tidak memiliki nyai, tapi menikah resmi dengan seorang pribumi. Ia tidak pulang ke Eropa saat ia sudah pensiun. Ia tidak mengikuti ujian kepegawaian. Ia juga tidak memakai kitab hukum pidana untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Cara Von Michalofski mengakhiri kelebihan laki-laki di Crimon Jawa juga sangat tidak konvensional. Karena jumlah perempuan sangat sedikit, sang posthouder secara teratur mendatangkan babu-babu dari Jawa untuk membantu rumah tangganya. Hanya dalam hitungan minggu, babu-babu muda itu dengan cepat dinikahi atau dipacari oleh laki-laki orang-orang hukuman yang jumlahnya sangat banyak itu. Ketika ditemukan satu orang yang tidak mau menikah, Von Michalofski mengambil tindakan penanganan yang lebih langsung guna menyeimbangkan jumlah laki-laki dan perempuan. Ia mendirikan sebuah warung teh lengkap dengan pelayan-pelayan perempuan. Tidak usah saya sebutkan apa yang para pelayan ini lakukan ketika melayani para tamu. Eksperimen ini berhasil. Dengan cepat para pelayan ini menemukan pasangannya pada tahun 1827 hasil sensus penduduk menunjukkan 160 laki-laki dan 123 perempuan. Pada tahun 1885, Kementerian Dalam Negeri menulis tentang keturunan para orang buangan dan perempuan pelayan ini. “Pencurian jarang terjadi, kejahatan dalam bentuk apapun hampir tidak ada. Orang-orang yang energik, layaknya orang Melayu yang suka melaut, sebuah masyarakat yang sejahtera dengan hanya sedikit penghirup candu.” Para narapidana yang dibuang ke Crimon Jawa untuk menjalani hukuman kerja paksa itu mendapat makanan dan pakaian dari pemerintah. Mereka wajib bekerja selama 8 jam perhari jika sang asisten residen atau pegawainya membutuhkannya. Sebagai imbalan, mereka mendapatkan 2 gulden perbulan (perempuan mendapat 1 gulden), 40 pon beras dan 2 pon garam. Dua kali setahun mereka mendapat sepotong kerudung biru, hem dan celana berbahan sama serta sarung kotak-kotak. Merekalah yang membuat pulau utama karimun jawa sejahtera dan teratur. Pada tahun 1826 Karimun jawa (Crimon Jawa) didiami hanya oleh orang bebas.

Karimun Jawa Saat Terjadi Perang Diponegoro (1825-1830)

Perang Diponegoro (1825-1830) menggerogoti kas negara dan oleh karena itu harus dilakukan penghematan diberbagai bidang. Konsekuensinya bagi Karimun Jawa (Crimon Jawa) ada 2 : sebagian besar serdadu yang mendampingi Von Michalofski memerangi bajak laut harus kembali ke Jawa dan para narapidana harus dibebaskan. Dengan begitu berakhirlah juga pengiriman gaji, makanan dan pakaian. Pada 1 Desember 1825, Von Michalofski juga diskors dan harus meninggalkan posnya di Karimun Jawa (Crimon Jawa) karena kasnya mengalami defisit 2400 gulden. Namun beberapa minggu kemudian masalahnya selesai dan ia kembali bekerja. Dengan dihentikannya pengiriman makanan, Von Michalofski dan rakyatnya harus memutar otak bagaimana mereka bertahan hidup. Menangkap ikan adalah sumber mata pencaharian penting dikepulauan karimun jawa ini, tapi para mantan orang buangan itu dulunya petani. Tanah di Karimun jawa (Crimon Jawa) berbeda beda tiap pulau dan sebelumnya belum ada tradisi tani. Oleh karena itu, Von Michalofski mendatangkan berbagai bibit dari Jawa untuk diuji coba : pohon buah-buahan, tebu, kopi (dicoba seorang Ambon bernama Frederik Tomas), jarak, sirih, jati, kapas dan bahkan ulat sutra. Namun hampir semua eksperimen ini gagal. Penyebabnya bukan cuma jenis tanah dan angin laut, tapi terutama tikus tanah, landak dan serangga. Setelah kegagalan bertubi-tubi, dicobalah budidaya kopra yang akhirnya membawa kesejahteraan bagi rakyat Karimun Jawa (Crimon Jawa). Diawali dengan penanaman 100 pohon kelapa dipulau menjangan, kopra diproduksi dengan sangat baik didelapan pulau. Saking baiknya hingga pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20 kopra menjadi komoditi dagang terpenting. Bahkan dipenghujung dekade 1980-an, Jakarta Times melaporkan bahwa Karimun Jawa (Crimon Jawa) memiliki perkebunan kopra yang sangat besar dan makmur. Pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan pejabat struktural. Pada tahun 1828 diselenggarakanlah pemilihan kepala desa pertama. Empat orang yang terpilih untuk memimpin desa pertama kali adalah Lateppa, Waledjo, Intje Timor dan Alie. Antara tahun 1829 dan 1838, anak tertua Von Michalofski, Carel Johan Rutger meninggal pada usia delapan tahun dan dimakamkan di Karimun Jawa (Crimon Jawa). Pada tanggal 7 Agustus 1838, Von Michalofski menyelesaikan masa jabatannya dengan terhormat pada usia 46 tahun. Walaupun usianya masih jauh dari usia pensiun, ia tidak berusaha mengejar karier lebih jauh dipemerintahan. Tidak ada data tentang apa yang ia lakukan sampai tahun 1845. Pada 26 Agustus 1845, pada usia 53 tahun, ia mengajukan pensiun resmi. Tidak lama kemudian, bersama keluarganya (dengan 3 orang anak lelaki) ia berangkat menuju kepulau Bangka di Sumatera. Kemungkinan mereka tinggal dirumah Hendrik Adrian Ludwig, anak keduanya yang mendapatkan pekerjaan disana. Anak perempuan Carel Rudolph, Hendrika Elisabeth Cornelia, meninggal saat masih kanak-kanak disana pada 5 april 1854. Dua bulan kemudian Carel Rudolph Von Michalofski, asisten-residen pertama Crimon Jawa menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 62 tahun. Hendrik Adrian Ludwig von Michalofski, anak kedua Carel Rudolph, kemudian menjabat asisten-residen Crimon Jawa pada tahun 1864-1869. Ia meninggal disana pada tanggal 3 Februari 1869. Residen Metman menulis pada tahun 1886 tentang desa utama Crimon Jawa yang ditinggalkan Von Michalofski : “Jalan-jalannya lebar dan ditanami pohon-pohon cemara tinggi dan halaman-halamannya, yang lumayan luas dan biasanya ditanami pohon buah-buahan, dibatasi oleh pagar-pagar yang dirawat baik. Tidak terlihat sama sekali rumah-rumah bobrok seperti penduduk miskin Jawa.”

Karimun Jawa 1986

Karimun Jawa pada tanggal 5 mei 1986, Joop van den Berg, penulis buku ini mengunjungi Karimun Jawa untuk melihat sejauh mana peninggalan Von Michalofski. Ia berlayar dengan kapal Larashati, sebuah kapal feri dari kayu yang dibuat diRembang. Kapal itu berukuran sekitar 20 meter panjangnya dan 5 meter lebarnya. Bersamanya saat itu juga berangkat kira-kira 60 orang, 2 ekor sapi, banyak keranjang berisi ayam dan sayuran, serta masih banyak lagi. Dikapal Larashati, ia sempat menikmati nasi dan sayuran yang dihidangkan diatas daun pisang seharga Rp 100,- saja. Perjalananya berlangsung selama 6 jam. Pemandangan desa yang digambarkan residen Metman ditahun 1886 masih sama pada 1986. Namun saja sudah tidak ada lagi pohon cemara. Van den Berg mendengar bahwa penduduk setempat menebangnya setelah Belanda pergi karena pohon cemara dipercaya dihuni roh jahat. Van den Berg menemukan mata air disebelah timur pulau, dekat sebuah teluk yang dalam (Legon Lele?). Disana terdapat air tawar, pohon buah-buahan dan pohon-pohon yang kayunya bagus untuk memperbaiki kapal. Von Michalofski membuat taman bunga yang sangat indah dibenteng yang berada diselatan pulau. Pada tahun 1885 benteng itu telah runtuh sepenuhnya. Pada tahun 1986 disana telah berdiri sebuah pabrik es modern guna mengawetkan ikan. Taman bunganya juga sudah hilang, digantikan alun-alun. Rumah dinas Von Michalofski, yang disebut het hoge huis atau rumah tinggi, masih berdiri tegak. Disebut rumah tinggi karena ukuran pintunya tinggi. Diabad ke-20, sebelum perang dunia II, Karimun Jawa sudah dipimpin oleh orang Indonesia. Menurut pak Alimun, yang diangkat pemerintah pendudukan Jepang sebagai pimpinan saat itu, Karimun Jawa hanya dikunjungi oleh orang Jepang dengan misi ekonomi. Tidak dijelaskan lebih jauh tentang misi tersebut. Namun saat perang, kapal-kapal selam Amerika serikat pernah menepi di teluk-teluk terpencil untuk mencari air tawar, daging dan sayuran. Von Michalofski pernah melaporkan tentang sebuah mata air yang terus-menerus mengeluarkan air sepanjang tahun dan dijadikan tempat mandi perempuan. Namun ditahun 1986 mata air tersebut sudah tidak ada setelah dijadikan tempat mandi umum yang dikelilingi tembok. Dibelakangnya terdapat makam yang bisa jadi milik asisten-residen penerus Von Michalofski dan Hendrik Adrian Ludwig. Pada tahun 1986 disetiap rumah sudah ada pompa air yang diletakkan disamping rumah. Tiap sore antara jam 16:00 dan 17:00 desa ramai dengan suara anak-anak mandi gebyuran air. Van den Berg juga mendatangi beberapa pulau dengan menaiki kapal solar yang saat itu disebut kapal stoom. Ia mengunjungi pulau parang yang diabad ke-19 terkenal sebagai sarang bajak laut. Pada tahun 1986, Van den Berg melaporkan bahwa pulau itu makmur dengan penduduk 2000 orang dengan mata pencaharian utama nelayan dan bertani. Padang rumput disana bagus untuk sapi dan kambing. Dipulau nyamuk pada tahun 1986 sudah berdiri sebuah mercu suar. Kampung disana juga seperti kampung utama Karimun Jawa : jalan-jalannya lurus, rumah-rumahnya besar dengan halaman luas. Di ujung selatan pulau Genting telah ditemukan marmer hitam. Rencananya beberapa tahun kemudian marmer hitam ini akan ditambang oleh sebuah joint-venture Perancis-Indonesia. Pada tahun 1986, Joop van den Berg melaporkan Karimun Jawa berpenduduk 7000 orang, 7000 hektar tanah subur dan 145 km laut penuh ikan. Penduduknya yang makmur ini telah memulai mata pencaharian baru : budidaya cengkeh. Saat itu sudah ditanam 23.000 pohon cengkeh. Saat itu peristiwa di Karimunjawa baru angan-angan pemerintah saja. Joop van den berg mengira para petinggi, nelayan dan petani di Karimun Jawa bahkan tidak mengangan-angankannya.